ᴥ X-Men: Days of When Superhero Franchise Done Right


SPOILER ALERT!

You've been warned.

Two years before the world was dazzled by a man in red-blue spandex body suit web-swinging across Manhattan in 2002, a bunch of "human with superhuman ability", known as "mutant", had already saved the world from evil mutants who wanted to change the world leaders into mutant. Don't get it confused with the monstrous lizard who wanted to change people into lizards. That was from a different universe and different timeline. My point is, even though the critically and commercially successful Raimi's Spider-Man was largely considered as the one film that marks the rise of superhero genre, I think we should never neglect X-Men for it, along with Blade, was the first serious modern superhero film since Hollywood stopped making Superman films.

As a matter of fact, judging from today's outcome I strongly believe that X-Men franchise reigns supreme. And that fact would be the newest installment: Days of Future Past. As mind-boggling as the title is, Days of Future Past has gone to a place that no franchise has gone before. Whoever is in charge of the development for this film series, they're doing it the right way.

X-Men: First Class emerged in the midst of reboot wave, presenting itself as seemingly a reboot to the X-Men cinematic universe, by casting younger actors and taking the timeline back several decades. No one complained, because this reboot rules. And then came along X-Men: Days of Future Past, its direct sequel, so fresh and groundbreaking, as if saying to the audience, "Hey look, we reboot the X-Men story. LOL nope JK." [insert some meme face here]

What could a running superhero franchise possibly do to undo the damage its previous installment has done and at the same time make the supposedly reboot become relevant to the rest of the story that precedes it?

The answer is, time travel, baby!

Not just some time travel, but a time travel done right. Like how it's done in this film. Let's not overthink how Kitty Pryde ended up having the power to send someone's consciousness back in time. Really, some minor bug like that could easily be outweighed by the good things. Like I always say, no movie is perfect. It's just how the bads and the goods will add up to. Clever storyline, check!

But the genius of this film doesn't stop at being able to mess with your mind, it also succeeds to capture your heart. Powerful acting by the cast ensemble, check! Believable human mutant drama, check! A clear theme and message, check! But moreover, what I want to underline here is how this film managed to perfectly utilize its viewers’ nostalgia, especially those who grew up with the original X-Men trilogy.

I've said it and I'll say it again. Sometimes we like a film not because it is so great, but simply because it can connect you to the past. Like how this film supposedly will change the course of what has happened so far in the previous films. Like HOW IT SUPPOSEDLY WILL BRING BACK SCOTT SUMMERS TO LIFE. As shallow as it is, we miss the old crew, don’t we? Scott, Jean, Storm... hell, even I miss The Iceman. I squealed when Bobby Drake, played by the same actor as in the original trilogy, is seen kicking ass very early in the film. My heart jumped out of my chest when Famke Janssen and James Marsden appeared, alive and well, toward the end when the future has been reconstructed.

I mean, wow, Brian Singers. Just wow. You have touched my cinephile heart in a way that other films can't. You give the original cast a proper send-off before moving on with the new cast and new story in now an alternate timeline. Very brilliant. So much thought and care has been given here and it shows. I wish more franchises would have been given as much thought and care. I am looking at you directly in the eye, Sony.

ᴥ Kemasan beauty produk.

Ngobrol ah. Beauty lagi ah (padahal kemarin bilang mau stop).


Aku suka risih kalo baca ulasan produk perawatan kulit sama makeup oleh beauty blogger lokal. Kebanyakan dari mereka pengen kemasan produk lokal mencontoh kemasan produk Korea ato Jepang yg imut (ato super imut). Iya kan? Produk perawatan kulit dari sana biasanya didominasi warna pastel, ada gambar cewek manis, terus bentuk kemasannya juga bikin gemes. Misalnya ada hiasan pita ato blusher bentuk cupcake. To be honest, lucu emang. Dan juga bikin gemes dan terbayang-bayang terus. Bikin pengen punya tapi sayang kalo dipake. >_<

Kalo aku ditanya, aku ga begitu suka. Alasannya sih pada dasarnya aku emang bukan pecinta kemasan yg imut. Terus juga, aku ga rela ah, kalo dengan desain imut terus harga produknya jadi harus tambah. Aku punya makeup remover yg sekarang udah re-package jadi lebih unyu (baca di sini). Tapi ternyata harganya jadi nambah sampe lebih dari 100% dari harga awal yg cuma sekitar Rp 7.000,00. Walau masih affordable, tapi kalo tahu harga semulanya aja segitu, sayang ah. Sekarang ini aku jadi suka menghela nafas kalo pake remover-nya. Takut habis. 

Kalo bagi aku, suatu kemasan yg penting itu paling ga menyediakan info yg dibutuhkan konsumen, misalnya penjelasan produk, cara pakai, komposisi (penting banget ini, apalagi buat yg punya alergi bahan tertentu), logo halal, dan tanggal kadaluwarsa. Untuk layout-nya, aku suka yg "bersih" (ato minimalis mungkin?) Keseluruhan produknya, kalo bisa jangan ada kesan "murahan". Penting buat konsumen, biar seneng yg pake.

To sum everything up: menurutku, kemasan produk sebaiknya memberikan info yg dibutuhkan konsumen dan menghindari ketidak-affordable-an harga.

Image via Nati Amour.

ᴥ Wishlist


Postingan tentang beauty bakal di tahun ini, aku tutup sama wishlist.

Aku punya produk-produk yang udah aku repurchased sampe ga kehitung berapa kali. Tapi kadang, aku juga pengen ada sesuatu yang beda. Entah dari jenis produk yang sama tapi merk beda ato produk yang ga biasa aku pake.

xxxxx

Selama ini, aku pake bedak tabur dari Wardah. Teksturnya yang lembut banget karena partikel bedaknya sendiri berukuran mikro, bikin kulit terlihat flawless setelah beberapa waktu. Kalo pake primer dulu, setelah beberapa lama akan kelihatan ada efek dewy. Walaupun isinya banyak, kemasannya gedhe dan rapuh. Hal ini bikin aku pengen ganti bedak tabur biar bisa dibawa ke mana-mana. Pilihanku jatuh di antara Face on Face Loose Powder yang punya Hyaluronic Acid sama Pixy Loose Powder yang wadahnya keliatan kokoh. We'll see.

Aku juga pengen Pixy Voluminizing Waterproof Mascara. Bulu mataku itu pendek, lurus, tipis, sama jarang. Jadi aku pengen yang bisa bikin tebel. Aku udah ga rewel pengen bulu mata yang lentik karena inget aku punya temen yang bulu matanya panjang dan tebel tapi ga lentik dan agak jarang. Tapi aku justru liat itu sebagai sesuatu yang membuat dia adalah dia. Jadi untuk sekarang ini, selama seleraku belom ganti, aku pengen ngebikin bulu mata yang tampak tebel. Sedangkan Pixy Eye & Lip Makeup Remover aku masukin wishlist karena kemasannya yang beda. Semoga cuma dikemas ulang, bahannya jangan (aku kemarin liat ada mineral oil yang masuk di produk keluaran Malaysia, yang keluaran Indonesia kan ga ada).

Aku lagi cari toner yang oke buat mendampingi toner dari dokter yang punya alkohol (kayaknya) banyak. Aku juga pake Air Sari Mawar Putih (klik di sini) tapi kadang aku ngerasa ga mantep. Karena suka banget sama Pixy Cleansing Express Brightening, Pixy Fresh Toner Brightening jadi incaranku.

Bukan aku kayaknya kalo ga nyinggung sedikit tentang lipstik. Warna amanku ada di kisaran soft peachy pink dan ternyata punya lipstik andalan yang cuma satu itu boring juga. Ngikuti seleraku sekarang sama lipstik yang warnanya di antara sheer sama bold dan ga high maintenance seperti lipstik matte, aku pilih lipstik dari Sariayu Tren Warna 2014, warna kode B4 yang sewarna bibir, walau kegoda sama B2 juga. ;) 

xxxxx

Itu wishlist-ku. :)

ᴥ Beauty Trip: The Haircut (Part 4).

Kalo di postingan ini aku bilang aku suka banget sama potongan rambut bob.. nah, aku harus ralat semuanya.

Rasa cintaku sama rambut pendek masih terus berlanjut. Ga ada yang berubah. Sampe sekarang aku masih berambut pendek, paling panjang cuma sebahu. Aku juga masih rajin nge-trim rambut walau sekarang udah ga rajin setiap tiga atau empat bulan sekali. Karena aku keramas tiap dua atau tiga hari, rambutku cepet tumbuh. Jadi aku trim setiap kali udah mengganggu.

xxxxx

Suatu hari aku nge-trim rambut di salon sekitar kampus. Aku bilang aku mau dipotong bob. Hairdresser-nya lumayan bingung karena aku sekarang selalu kritis kalo pesen potongan rambut. Soalnya kan perempuan itu kalo salah potong rambut badmood-nya bisa sampe berhari-hari. Jadi aku bilangin secara detail model rambut yang aku maksud.

Setelah agak beberapa lama, hairdresser jelasin potongan rambut bob sama papak (english: blunt). "Kalo bob itu bagian belakang selalu lebih pendek, kalo papak bagian bawahnya rata sama depan", kata dia kira-kira gitu. Oh! Jadi yang aku maksud itu bukan bob tapi papak.

Aku jadi inget dulu kalo rambutku dipotong, mama hampir selalu minta papak. Tapi sejak ditawarin bob, "Apa bob? Potongan rambut baru? Namanya cuma bob. Bob. Bob. Bob", kira-kira gitu kesanku sama potongan rambut bob. Namanya bagus ya daripada papak. Kalo denger papak tu berasa ndeso banget. Dan karena masih kecil, aku ga bisa begitu bedain dua potongan rambut itu karena dua-duanya sama aja kalo diliat dari depan. Aku pikir kalo bob tapi belakangnya panjang jadilah papak. Tapi susah juga karena patokan hairdresser kan yang "bob", bukan "bob yang belakangnya sama rata sama depannya".

xxxxx

Jadilah selama ini aku kira papak ya bob itu, cuma bob itu papak modern. Pantesan selama ini sering kecewa kalo potong rambut. Yang bilang aja udah salah.

blunt haircut yang aku suka yang model begini

Berdasarkan pengalamanku, biar kita ga kecewa ketika potong rambut, aku melakukan ini untuk meminimalisir kekecewaan dan durasi badmood di hari selanjutnya. :)

1. Niat!
Menurutku kita harus yakin dulu kalo mau potong rambut. Apalagi kalo rambutnya panjang terus dipotong sampe banyak banget. Bagi beberapa perempuan ini jadi persoalan hidup mati. Kalo aku sih cuek. Toh rambut bisa tumbuh. Waktunya lama? Aku keramas tiap dua atau tiga hari dan temenku bilang itu faktor yang bisa bikin rambut panjang lebih cepet juga. Dan itulah yang emang aku alami.

2. Yakin model rambutnya. 
Model rambut juga bisa mempengaruhi mood-nya perempuan. Dipikir dulu kira-kira cocok sama bentuk wajah ato ga. Kalo mau pake poni, yakin dulu mau poni rata (blunt fringe/blunt bangs) ato yang sideswept

3. Kalo perlu, bawa gambar model rambutnya.
Sepengalamanku, ini yang paling membantu. Kalo kamu ga begitu bisa menjelaskan model rambut yang kamu mau, cari gambarnya! Jangan tanggung-tanggung. Kalo perlu cari sampe dapet tampak depan, samping kanan-kiri, sama belakang biar jelas gimana modelnya. Bayangin kalo kamu bilang mau potong rambut pendek kayak Jennifer Lawrence (pixie cut) tapi malah dipotongin kayak Pink. Kan beda jauh.

4. Lainnya?
Lainnya sih sederhana tapi kalo lupa bikin gigit jari juga. Intinya aku mau ngingetin..
- Jangan lupa kasih tau sepanjang apa calon rambut nanti. Jangan cuma bilang di atas ato di bawah bahu tapi juga ditunjukkin seberapa panjangnya.
- Ujung rambut panjang itu beragam, ada yang papak, ada yang oval, ada yang oval banget, ada yang pake layer. Jangan lupa pertimbangin ini juga.
- Kalo mau potong rambut pendek tapi ga begitu pendek, aku biasanya bilang, "Potong rambut papak tapi bisa dikucir". Kalo cuma bilang papak, biasanya dipotong di bawah telinga yang mana ngingetin aku di film-film tahun 90an dan aku sebenernya ga keberatan tapi kadang-kadang bikin pipiku keliatan chubby.

Semoga membantu!


ᴥ Beauty Trip: The Hair Hero (Part 3).


Aku pikir sekarang saatnya meng-updatepostingan ini karena rambutku makin banyak pengalaman. ^_^

Lagi-lagi berawal karena di tahun 2013 aku banyak minum obat sampe ga terkira, aku mulai sedikit go green. Niatku adalah meminimalisir bahan kimia (atau yang ga baik) yang masuk ke badan. Caranya banyak. Aku sendiri pilih cara-cara seperti (1) minum air putih dengan target 8 gelas setiap hari, (2) membatasi makan makanan yang berminyak dan bersantan, (3) ga pake nail polish lagi – nail polish aku anggurin sampe ga sadar cairannya mulai pisah sama minyaknya (?), (4) mencegah jadi si sakit – kalo udah terasa ada tanda-tanda mau sakit ya minum air putih yang banyak, istirahat cukup, minum madu ato sari kurma. Kalo ga mempan juga ya udah, ke dokter dan tetep minum air putih yang banyak, (5) dll. Semua itu aku lakuin demi investasi kesehatan masa depan (semoga berhasil!)

Aku pun udah lama pengen go green untuk masalah skincare sama kosmetik. Banyak merk luar negeri yang organik, sedangkan yang asli Indonesia baru sedikit. Itu pun harganya, well, aku ga bisa afford untuk sekarang. Apalagi ada yang harus pesan online (PO) karena sampe sekarang distribusinya belum luas. Berarti kalo PO, harus bayar produk sama shipping-nya. Nambah biaya. Aku maunya yang gampang ditemui di swalayan ato toserba terdekat.. seperti Natur.

xxxxx

Aku udah sekitar 6 bulanan dalam masa trial and error sama Natur. Natur ini punya enam varian sampo, dua varian tonik rambut, sama tiga varian kondisioner. Samponya sendiri berwarna kayak teh hitam, bertekstur gel to liquid, dengan wangi green tea (yang mana aku sendiri belum pernah tau). 

Kalo dibandingkan sama dulu, Natur ini menurutku berinovasi sekali. Waktu aku masih kecil, aku sempet pake ini karena “Natur itu bagus”, katanya mbah putri. Dulu Natur cuma punya satu varian dengan wangi jamu (correct me if I’m wrong). Setiap temen yang nyium baunya pasti tau kalo aku pake Natur dan nyaranin ganti sampo. Aku pertama-tama sih cuek, yang penting kan rambut sehat. Tapi masih kecil temennya buanyak. Kata temen apa ikut aja. Akhirnya goyah juga. Pake sampo jadi coba-coba sampe ketemu seperti yang di postingan ini.

Karena aku mau go green, aku pake Natur. Kalo kamu liat dari komposisi bahanya, semuanya alami. Ga ada SLS ato pun silikon.

xxxxx

Natur Ekstrak Tea Tree Oil & Lime untuk mencegah ketombe, aku pake tiga botol; dua botol 80 ml sama satu botol 140 ml. Efek yang dibilang Momzhak di sini langsung kerasa. Rambut kasar kayak sapu ijuk. Tapi aku yang suka messy hair sih ga keberatan. Rambutku jadi bersih dan ga gampang kotor. Kalo pake sampo yang dulu, aku harus keramas dua hari kemudian. Kalo pake ini, aku bisa keramas tiga sampe empat hari kemudian tanpa ada rasa lepek di rambut.

Sayangnya varian ini bikin rambutku rontok. Awalnya aku pikir wajar aja karena kan sampo yang sekarang ga ada Panthenol (Pro vitamin B5) kayak sampo yang dulu. Tapi ternyata setelah beberapa kali pemakaian tetep aja rontok, malah tambah banyak. Akhirnya setelah habis botol yang ketiga, aku ganti dan sekarang pake Natur Ekstrak Ginseng untuk mengurangi kerontokan.

Manfaat dari Natur Ekstrak Ginseng langsung aku rasakan sejak pemakaian pertama. Setiap kali keramas, rambut rontokku berkurang. Kalo disisir ato habis bangun tidur pun udah jarang ada yang rontok. Bedanya kalo pake Ekstrak Ginseng ini, rambutku jadi lebih lembut tanpa terlalu lembab seperti kalo pake Natur Ekstrak Olive Oil. Varian Ekstrak Olive Oil aku pake selama pake TTO & Lime (sampe sekarang masih aku pake sih) biar ga terlalu kusut dan kering kayak sapu ijuk. Kalo dipake sendiri ya itu tadi, rambutku yang tipenya berminyak ini jadi terlalu lembab. 

Karena banyak yang rontok, aku pake Natur Tonik Rambut Ekstrak Aloe Vera untuk menyuburkan rambut. Aku suka banget ketika liat rambut-rambut muda bermunculan di piakan. Tonik rambut ini wanginya seger. Mulut botolnya sendiri mengerucut. Buat aku ini jadi mempermudah kita yang pake sendiri tanpa bantuan orang lain, biar toniknya ga bleber ke mana-mana.

Yang lain? Hair tools macem bandana, jepit rambut, ato tali rambut ga lupa aku pake seperlunya terutama pas rambut kotor biar ga kena wajah. Di aku ini bisa merangsang jerawat. Aku udah jarang pake hairdryer lagi. Ini artinya ga pake produk pelindung rambut dari panas hairdryer dan mengurangi penggunaan hairmask. Hairmask itu penting, tapi aku jarang banget pake. Karena kalo tekstur hairmask-nya terlalu rich, justru bikin rambutku lepek dalam 1 x 24 jam.

Kalo kamu pake skincare ato makeup alami apa?

ᴥ Beauty: How to not losing your lipstick.

.. or make the lipstick last longer, you may say.

If you ever read my confession of confusion about lipstick resistance on my lips (click here if you're interested to read - in bahasa Indonesia, though), I've done a little research about it.

A few days ago, one of my new friends complimented me from seeing my lipstick were still on the lips after I wudhu in the afternoon. "Why was it still there?" she asked. But instead of explaining technically, since in fact it was off a bit, I said nothing. Not because I didn't care but I didn't know what should react as if there were complimenting me. Not to brag, but this was not the first time my friend gave good comment. And also, I thought I ever gave some tips but friends made a fun of it. So next time I got good comment, I kept silent.

But just in case if you wonder how to mantain the color to your lips, I have three tips you can try. 

1. Lipstick isn't honey
It's obviously. But in middle school, my friend licked lips when she tried her first lipbalm. "It's not tasty!" she commented. Of course! They're not meals. The same rule goes to lipstick. I don't lick it.

2. Eat carefully
This can be pleasure and torture at the same time. Torture: I have to avoid touching meals to my lips. I can't eat banana and leave a rim of lipstick around the periphery of the fruit and then eating it (like what Molly Young said. Solution? Use lipbalm instead or wipe off the lipstick). Pleasure: after those ridiculous and embarrassing acts, the lipstick is still on my lips! My personal opinion, you have to master it, especially if you want to be beautiful chef who appears on MasterChef Indonesia (0:23) show.

3. Ssst! Re-apply!
If the colour of lipstick on the lips has been off a bit, I re-apply it. If it's possible to re-apply without ruining the whole texture (on the lips), go ahead. If it will ruin, I wipe it with tissue and re-apply. But since I don't lick my lips, I don't do it often.

I have survived some tube of lipstick with these tips using Caring Colours Happy Lip Colour in Bronze Nude, Wardah Matte Lipstick in Bronze Nude and Cocoa Look, and Wardah Exclusive Lipstick in Light Rose and Rosewood. Unfortunately, it's not for sheer colour lipstick as they come off easily, although I have to make an exception for Sariayu Lipstik Imut in Serimpi (06) as it's quite a fighter. :)

ᴥ Mind Refreshment.

Beberapa hari lalu, aku beli buku. Asyik banget langsung dapet beberapa items pake voucher Rp 100.000,00. Semuanya novel, though. Ga ada yang buku pelajaran. Kalo buku pelajaran biasanya bakal nganggur dan dipake kalo perlu. Kalo novel bisa dibaca berulang-ulang. 

Aku dapet lima novel, empat novelnya udah satu paket novel terjemahan. Salah satu novel dari paket itu adalah The Curious Case of Benjamin Button. Telat nih dapet yang bentuk tertulis. Aku udah terlanjur liat versi filmnya. Ya, walau ga begitu suka sama Brad Pitt tapi Cate Blanchett enak banget ya diliat. Umur berapa sih dia? Kulitnya masih glowing dan bikin mupeng.

The Curious Case of Benjamin Button (F. Scott Fitzgerald) - Saga no Gabai Bachan (Yoshichi Shimada) - Dua Saudara (Jhumpa Lahiri) - Demi Esme dengan Cinta dan Kesengsaraan (J. D. Salinger) - The Bear Came Over the Mountain (Alice Munro)

Tapi sayang, novel-novel ini masih rapi disegel sampe sekarang. Aku belom sempet baca. Kalo ada waktu luang, aku lagi asyik main Townsmen, The Smurfs Village, sama Virtual Families 2. Jadilah masih nganggur belom aku buka. Rada susah baca novel walau cuma sependek Fear Street. Baca beberapa kalimat aja langsung ngantuk ato bosen. Novel Fear Street sekarang aku baca sampe berhari-hari, paling cepet cuma dua hari. Bandingin sama dulu pas jaman Harry Potter keluar terus. Novel Harry Potter and the Order of the Phoenix yang punya 1.200 halaman bisa selesai dalam waktu lima hari aja. Ga ada novel Harry Potter yang sampe lebih dari seminggu.

ᴥ Beauty Trip: Now (Part 2).


Sekitar tiga tahun lalu, aku memutuskan untuk ngilangin jerawat secara serius dengan bantuan dokter dari klinik kecantikan. Mamaku juga pergi ke situ. Beberapa hal yang aku suka dari kliniknya, antara lain klinik menarget pasien dengan ekonomi menengah. Kalo dilihat dari sisi ini, aku suka karena aku sendiri masih mahasiswa. Uang juga dapet dari kelebihan uang saku. Selain itu, aku ga perlu antri lama untuk konsultasi ato dapet perawatan. Pernah pas facial, aku denger ada pasien baru yang mengeluh pindah dari klinik lamanya (yang dulu juga jadi pertimbanganku tapi kalopun aku bisa nyisihin uang untuk beli krimnya, perjalanannya sendiri menguras bensin dan tenaga) karena antri lama. Misalnya jam sembilan pagi ke sana, itu baru dapet antrian. Dapet giliran konsultasi kalo udah siang. Mamaku sendiri yakin loyal di klinik itu karena dokternya adalah anak dari salah satu dokter yang bagus (katanya mama) di rumah sakit di daerahku. 

Aku ga pernah bayangin bakal bener-bener ngerawat kulit kayak gini. Aku dulu punya pendapat kalo klinik kecantikan bakal menguras uang. Perempuan yang pergi ke sana pasti cuma yang punya uang berlebih. Perempuan yang pemasukannya pas-pasan dan masih pergi juga itu berlebihan, seharusnya uang dipake buat kebutuhan sehari-hari yang lebih mendesak. Tapi apa mau di kata, jerawatku bandel!

xxxxx

Pertama kali ke sana, aku dikasih skincare sejumlah empat macem. Waktu itu jerawatku ga begitu mengkhawatirkan. Dokter bilang fokus mengurangi bekas jerawat secara bertahap dan minyak yang berlebih. Cleanser warna hijau bahannya tea tree oiltoner yang mengandung alkohol dan sejujurnya bikin aku rada susah bernapas pas dioles di deket hidung, krim pagi, sama krim malam. Awal-awal pake kulitku rada kering. Aku sempet mau berhenti tapi beberapa kali pemakaian selanjutnya kulit rasanya normal lagi. Minyak wajah berkurang dan wajah keliatan seger. Hasilnya sendiri ga instan, terlihat setelah beberapa bulan. Nah, beberapa bulan kemudian wajahku bersih. Bikin aku terus-terusan ngelihatin kaca terus. :)

Ada satu alasan kenapa aku ga mau perawatan di klinik, yaitu takut ketergantungan. Makanya pas opnam kena DB, aku ga bawa produk skincare (kalo opnam masih pada ngurus wajah ga sih?) Akhirnya keterusan setelah keluar dari rumkit, aku ga pake lagi. Waktu itu ada satu produk skincare yang baru gencar promosi. Aku coba produknya, berharap bakal cocok.

Tapi karena emang ga tahu keadaan kulit, aku pilih produk ini itu. Harusnya pake apa, pantangannya apa, aku ga tau. Beberapa bulan kemudian, jerawat muncul lagi. Aku pikir dengan membersihkan secara teratur, jerawat bakal hilang. Nyatanya tetep aja. Aku juga nekat mencet jerawat yang meradang merah besar. Hasilnya? Sekarang pipiku banyak luka parutnya. Aku kembali ke klinik yang sama berharap jerawat bisa ditangani biar kulit mulus lagi.

xxxxx

Kedua kalinya aku pergi klinik, aku dikasih skincare yang sama plus serum jerawat dan obat minum. Pengobatannya dari luar dan dalam. Habis minum obat, jerawatku kering dan makin jarang. Aku juga rajin konsultasi sama dokter. Misalnya waktu krim pagi yang aku pake seharusnya mengurangi minyak karena berbahan gel, ternyata ga ada efeknya. Sama dokter krimku diganti. Sebulan kemudian aku kembali untuk kontrol dan dokter senyum-senyum liat efeknya. Ternyata aku kurang cocok pake krim untuk kulit berjerawat, tapi cocok dengan krim whitening. "Kulit setiap orang memang beda," kata dokterku.

Sekarang ini aku loyal sama skincare dari klinik. Ga takut ketergantungan? Ga. Aku pikir itu terjadi karena ga cocok aja. Temenku loyal pake produk tertentu. Suatu hari dia coba yang lain tapi justru breakout dalam hitungan hari.

Asyiknya, aku boleh pake skincare yang lain asal emang cocok. Dokter menyarankan aku pake pembersih 2-in-1 daripada milk cleanser kalo dirasa kurang bersih cuci mukanya. Dari pengalamanku, aku berpendapat bahwa kulitku yang berminyak ini ga apa-apa berminyak asal dikontrol biar ga menimbulkan jerawat, pilih produk perawatan kulit yang oil-free, dan busa sedikit untuk sabun muka. Rambut juga. Kebanyakan orang yang wajahnya berminyak, rambutnya punya tipe yang sama. Sekarang aku ga berponi lagi. Harus rajin jaga kebersihan rambut. Kalo belom sempet keramas, aku pake bandana ato hairclip biar rambut ga kena dahi.

xxxxx

Sekarang ini aku pake tambahan skincare yang bukan dari klinik. Semuanya bebas mineral oil karena bahan ini adalah bahan yang kalo aku pake, dalam hitungan menit bikin kulitku kusam, dan dalam hitungan jam jerawat kecil-kecil langsung bermunculan. Aku tahu ini karena aku join forum femaledaily. Di situ aku cerita setiap pake produk X kok ada reaksi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya. Senengnya ada yang respon. Dia bilang karena mineral oil. Dan emang setelah aku liat, produk yang aku pake mengandung bahan ini. Jadilah aku ambil semua produk yang aku punya dan cek satu-satu bahannya. Semua yang mengandung mineral oil aku stop pemakaiannya terus sebagian besar aku kasih ke temen.

Pembersih 2-in-1 yang aku pilih adalah Pixy Cleansing Express Brightening yang lembut dan ga bikin berminyak. Seri Cleansing Express punya pembersih khusus kulit berjerawat tapi aku cuma pake satu botol ukuran yang paling kecil (kalo masih nyoba skincare baru, aku selalu pilih yang ukuran paling kecil) dan ga beli lagi karena justru bikin kulit terasa berminyak. Wardah Cleansing Gel aku rotasi sama cleanser dari klinik kalo cleanser sedang ga bersahabat bikin kulit super kering. Produk ini licin ketika dipake. Setelah dibilas, kulit muka jadi bersih, kering-normal tanpa ada rasa kencang sampai tertarik. Untuk bibir, karena aku suka pake lipstik, aku harus rajin bersihin dengan Pixy Makeup Remover. Aku pilih makeup remover ini karena dengan harga under Rp 10.000,00; aku udah dapet hasil yang memuaskan. Kadang aku juga pake Wardah Pure Olive Oil. Produk ini bisa dioles sambil dipijat di area bibir, bisa juga untuk mata, atau area kulit yang kering.

Kalo bersihin muka, aku pake toner setelah cleanser ato Wardah Cleansing Gel. Setelah itu pake krim pagi dari klinik atau Clean & Clear Essentials Moisturizer. Pelembab ini adalah yang paling aku suka dari semua pelembab yang pernah aku coba. Kalo yang lain bikin mukaku berminyak setelah beberapa menit dipake, yang ini ga. Yang ada justru kulit muka kelihatan seger dan kenyal kalo disentuh.

Nah, kalo weekend aku maskeran. Aku pake Inez Deep Cleansing Clay Mask untuk kulit berminyak setelah sebelumnya pake Inez Seventh Day Scrub Cream. Aku suka banget sama clay mask punya Inez daripada Inez Brush-On Peel-Off Mask-nya. Beda target jenis kulit memang. Masker Brush-On Peel-Off untuk kulit kering sedangkan Deep Cleansing Clay Mask untuk kulit berminyak. Aku pikir kalo pake Deep Cleansing mukaku bakal kering dan kurang kelembaban. Jadi aku beli juga yang buat kulit kering karena berharap akan melembabkan kulit. Tapi sayang maskernya tidak melembabkan. Berita bagusnya, ini satu-satunya masker peel-off yang pernah aku coba yang ga sakit sama sekali ketika dikelupas lapisan maskernya. Bulu-bulu halus di sekitar hidung juga ada yang terangkat kalo pake ini. Tapi aku pake Brush-On Peel-Off untuk variasi aja.

Aku masih inget pertama kali pake Inez Deep Cleansing Clay Mask, 2 x 24 jam kemudian wajahku bebas minyak. Scrub-nya juga untuk kulit berminyak. Krim scrub aku pake dua kali seminggu setiap mau pake masker. Butiran scrub-nya kecil-kecil banget. Aku suka yang begini karena ga suka efek sakit walau sedikit kalo dipake di kulit. Untuk menyiasati krim scrub yang kurang bisa rata, aku gosok di muka dengan ujung jari yang sedikit basah. Aku jadi pengen coba scrub-nya untuk kulit kering.

Pertengahan minggu, aku maskeran pake Mustika Ratu Masker Tomat yang mengandung ekstrak buah tomat dan derivat vitamin C untuk menyegarkan kulit dan diperkaya dengan anti-oksidan. Aku pake masker ini karena aku merasa kulit butuh penyegaran selain pembersihan menyeluruh dengan Inez Clay Mask. Kalo ga pake punya Mustika Ratu, aku pake Acnes Tea Tree Oil Clay Mask. Walau clay mask, masker beraroma tea tree oil ini melembabkan kulit. Sampe kalo udah waktunya dibilas, aku sering kelewatan karena maskernya terasa ga kering. Setiap selesai pake masker, aku oles kulit muka pake Mustika Ratu Air Sari Mawar Putih. Selain untuk toner setelah maskeran, aku juga pake untuk campuran masker bubuk. Produk ini juga digunakan untuk campuran peeling dan kompres.

Selain produk di atas, aku mulai rajin pake sunblock/sunscreen. Aku pernah baca kalo orang Asia rentan penuaan dini, keriput, dan flek hitam karena sinar matahari yang melimpah (CMIIW). Sekarang aku pake Ratu Ayu Solo Whitening Sun Block Cream. Aku merasa riskan masukin produk ini di postingan karena aku baru dapet produknya kemarin setelah produk yang aku cari itu udah ga jualan di toko yang aku datengi. Setelah dua kali pemakaian, so far so good. Ga berminyak, kulit ga kusam.

Semua produk yang aku pake ini mudah didapat dan bebas mineral oil. Harganya juga terjangkau buat aku.

Kulitku sekarang masih ga bebas dari jerawat ^_^ Kalo mau menstruasi masih suka ada yang muncul. Tapi jelas jauh lebih baik dari dua tahun lalu. Yang ada sekarang cuma luka parut karena dulu nekat mencet jerawat sendiri. Fokus ke skincare daripada makeup adalah salah satu resolusiku tahun lalu dan ini. Kalo kulit muka bagus, mau pake makeup tebel ato tipis ato ga sama sekali juga tetep kelihatan bagus. Kristen Stewart yang jenis mukanya berminyak aja bisa punya kulit muka yang sehat gitu, aku juga bisa dong.

ᴥ Beauty Trip: Formely (Part 1).

Aku udah berjerawat sejak menstruasi pertama. Waktu itu aku kelas enam SD. Aku seneng banget pas tahu ada jerawat yang tumbuh. "Aku udah remaja!" pikirku. Aku tanya mama butuh berapa hari sampai jerawat hilang. Mama bilang sekitar semingguan. Jadi si jerawat aku liatin terus di kaca, liat perkembangannya, udah kempes ato belum.

Aku inget banget karena pengen si jerawat hilang, aku pencetin. Mama bilang jangan, tapi aku ngeyel. Jadilah jerawat pertama hilang sekitar lebih dari seminggu dan ninggalin bekasnya. "Jerawat kalo dipencet emang ninggalin bekas, makanya besok lagi kalo jerawatan jangan dipencet," mama bilang. Ak sih cuek. Masalahnya adalah ketika jerawat itu jadi jerawat pertama yang aku punya. Setelah hilang, muncul banyak jerawat (yang untungnya sih) kecil-kecil, kalo mateng keluar nanahnya.

Efek yang timbul itu yang bikin sebel. Walau aku udah tahu ga boleh pencetin jerawat, aku tetep lakuin karena tangan emang "gatel". Ini bikin bekas jerawat pun jadi makin banyak dan lebih lama hilang. Ada tuh jerawat yang ga aku pencet karena mau tahu apa bener kalo ga dipencet jadi ga berbekas. Ternyata masih. Bedanya kalo dipencet, luka yang timbul jadi lebih dalam jadi makin lama/susah hilang. Untungnya waktu masih kecil kulitku lebih gelap. Bekas jerawat ga begitu kelihatan.

xxxxx

Waktu SMP-SMA sama aja. Aku masih jerawatan. Kalo pas ga jerawatan, bekasnya lah yang ganggu. Mulai SMP kelas 3, aku ikut-ikutan temen pake whitening moisturizer. Dia sendiri udah pake sekitar beberapa minggu dan kelihatan hasilnya. Kulit mukanya jadi lebih putih. Aku pengen, akhirnya aku juga pake.

Beberapa minggu kemudian, bekas jerawat tampak pudar. Aku seneng banget. Ini bikin aku yakin pake produk Shake and Clean merk mereka juga (ada yang bisa tebak merknya? ^_^). Aku puas dengan hasil yang tampak. Di dalam hati sendiri bilang, "Kenapa ya ga dari dulu pake produk ini?" Tapi sayangnya setelah setahunan pake, produk ini bikin kulit kusam dan memerah terutama kalo kena cahaya matahari.  Aku kaget temen SMA komentar mukaku langsung merah setelah keluar kelas karena mau olahraga. Aku pikir cuma temporary karena produk-produk gini ada kalanya ganti formula, jadi ini reaksi karena belum terbiasa. Tapi mukaku ga balik kayak biasanya. Aku berhenti pake produk apapun dan terima nasib kulit muka 

xxxxx

Ngomongin jerawat, ada yang kurang kalo ga cerita penyebabnya juga. Banyak faktor yang bikin jerawat muncul di kulit. Ada yang karena hormon, alergi makanan tertentu, tanda bahwa organ tubuh sedang ga fit, dsb. Kalo alasan kenapa aku jerawatan sebetulnya juga ga begitu paham. Aku pikir karena hormon. Tapi masa sih sampe sekarang hormon ga mau pensiun bikin jerawat eksis di mukaku?

Tapi kalo inget-inget pas masih kecil, aku lumayan centil. Aku berani nyoba lipstik, eyeshadow, pelembab, sampe alas bedaknya mama. Pernah aku sembunyi-sembunyi karena pake alas bedak selama beberapa hari (akhirnya ketahuan dan dimarahi). Waktu itu masih kecil, yang aku tahu cuma kalo pake pelembab mukanya jadi lembab kayak kulit perempuan yang di TV, tapi kalo pake alas bedak bikin muka jadi cantik karena kulit kelihatan ga bercacat, bersih, ga ada noda sedikitpun.

Aku juga suka pura-pura jadi perempuan di iklan sabun muka. Jadi tiap mandi, sabun mandi buat badan aku gosok terus sampe muncul banyak busa yang mirip di iklan. Terus aku pake di area pipi, dahi, sampai seluruh muka. Kalo habis mandi, muka diliatin terus di kaca, dielus-elus, aku seneng, "Beginikah punya kulit muka yang tipenya normal?"

Aku yang masih kecil ga begitu tahu tentang jenis kulit tapi dari yang aku baca di majalah, ada empat jenis kulit muka, yaitu berminyak, normal, kering, dan kombinasi. Berdasarkan ciri-cirinya, kulit mukaku termasuk yang berminyak. Aku ga suka. Kulit jadi kelihatan kusam dan lusuh. Makanya tiap mandi aku pake sabun mandi buat muka. Padahal waktu itu aku baru sekolah di SD.

Barulah pas udah sekolah di SMP, aku mulai ngerti yang namanya sabun badan itu ga boleh buat muka. Muka kita sensitif, kulitnya lebih halus daripada kulit badan. Pake sabunnya pun harus yang khusus untuk muka.

Makanan. Apa yang salah sama makanan? Setahuku aku ga ada alergi sama makanan tertentu. Apalagi sampe bikin jerawat (yang ada sih ga doyan). Tapi memang ada kemungkinan besar ada hubungan erat antara makanan yang masuk ke badan sama jerawat yang muncul di mukaku. Aku cuma makan sop-sopan, sayur asem, sama sayur bayam selama sebulan pas bulan Ramadhan tahun 2013 lalu karena masalah lambung. Aku ga makan makanan ato minuman yang pedes, asam, berminyak, dan bersantan. Aku takut lambung jadi makin perih. Dari situ aku perhatikan, kulit mukaku jadi ga berminyak, kayak kulit tipe normal. Malah di beberapa tempat seperti di sudut bibir jadi agak kering dan tertarik. 

Ya, walau udah ngerti teorinya tapi tetep susah ngejalaninnya. (1) Jerawat ga boleh dipencet. Nyatanya tangan gatel dan berakhir mencetin jerawat. (2) Kulit berminyak tetep perlu pelembab. Nyatanya banyak produk pelembab yang harus melewati trial and error (sedangkan mukaku cuma satu!) karena waktu itu aku ga tahu kenapa bisa setiap dipake justru semakin berminyak ato malah kusam dan muka memerah.

Akhirnya kira-kira tiga tahun lalu, mama nyaranin aku buat ke klinik kecantikan buat ngurus jerawat. Aku yang udah capek pun setuju.

Image via AcneSkinSite.

ᴥ Maret 2014 summary.


These happens..


1. Layanan internet tercinta yang modemnya ga portable ternyata habis bulan depan, yang mana berarti sampe Maret masih bisa dipakai. Tapi aku justru jarang pake karena hal ini jadi semacam pelatihan untuk bisa ngelepas internet nanti.
Ngomongin internet, modem portable yang aku pake sebelumnya itu jadi satu sama hp. Jadi kalo nancep laptop ato komputer terus jadi bengkak batrenya. Enakan pake yang mirip flash drive. Tapi bingung mau pake yang dari layanan apa. Karena yang te-o-pe itu kecepatannya turun drastis kalo udah melebihi kuota (padahal ini unlimited tapi pake kuota) dan yang terjangkau itu tergantung domisili user, kalo di kota ya cepet, di pelosok ya bubar.

2. Laptopku rewel. Laptopku tiba-tiba berisik kayak kalo lagi kerja berat. Aku panik dong karena suaranya ga langsung hilang kayak biasanya. Dibawa dua kali ke tempat servis, masalahnya karena kipasnya. Dibalikin ke tempat servis lagi karena tiba-tiba berisik lagi sampe akhirnya dikasih pelumas. Jangan sakit lagi dong sayang.

3. Ada hikmahnya internet habis. Uang simpananku habis. Udah ga punya selembar pun di dompet. Kalo biasanya mau keluar uang tapi pikir-pikir dulu, ini sampe pikir-pikirnya lebay. Sampe rela kelaparan (tapi ga kok, akhirnya tetep jajan juga karena kalo sakit yang keluar jadi lebih banyak). Karena internet ga pake yang ga portable lagi, uangnya bisa masuk ke uang jajan.

Image via blueOcean-.

ᴥ Februari 2014 summary.


Aduh! Lama banget ga ngeblog monthly summary karena kondisi waktu itu memang ga memungkinkan. Akhir tahun lalu sebenernya mau bikin tapi males menang. Ya sudah. Di Februari 2014 ini..

1. Layanan internet udah mau habis. Kalo di rumah, internetan pake promo dari layanan yang emang bagus (karena modemnya ga pindah - kalo kata yang pasang modem waktu itu). Tarif regulernya sendiri menurutku ga mahal. Tapi kalo dihitung sama pengeluaran lain ya ini masalahnya. Kalo promo kan enak, murah. Kalo reguler, belum tentu bisa kesampaian karena kebutuhan lain yang mendesak. Modem portable ga memuaskan. Nah, jadi nanti kalo aku udah susah update Twitter, blog, info apapun, inilah alasannya.

2. Satu-satunya manga yang aku pantau adalah Naruto. Bulan ini ceritanya bikin hati/emosi/perasaan jadi jungkir balik. Kurama/Kyuubi diambil dari Naruto, bikin dia hampir mati. o(╥﹏╥)o Sakura gerak cepat dengan menyayat dada bagian samping, memompa jantung Naruto secara manual (ternyata di dunia nyata emang prosedurnya begitu - eww juga kesan pertama liatnya).

3. Oatmeal eater! Akhirnya setelah mention-an sama Etta, aku yang dari dulu gagal terus bikin oatmeal - bahkan yang paling sederhana sekali pun (oatmeal siap masak dicampur susu yang direbus), jadi tahu di mana kesalahanku. Dia ga ngasih tahu sih, aku ngerti sendiri. Hihi! Tapi ya, aku merasa tetap terbantu. Jadi gini, aku dulu tiap bikin oatmeal selalu nambah porsi sendiri. Padahal jatah satu gelas oatmeal takarannya 4 sdm aja. Nah, itu aku tambahin sampe 6/7 sdm. Ya udah, jadi kentel dan bikin eneg.

Image via スペード .

ᴥ Musim dinginnya itu kabut dan abu.

Hari Minggu!

Siapa sih yang ga suka hari minggu? (ʃƪ ˘ ³˘) Yang pada sekolah: libur. Yang pada kerja: libur. Yang pada jualan: untung. Buat anak-anak: main sepuasnya. Buat orang dewasa: refreshing. Buat keluarga: piknik. Buat aku: males-malesan + nonton film + main sama temen + blogwalking + etc.

Yup! Paling suka hari minggu buat males-malesan. Apalagi inget life event di akhir Januari kemarin. Udah lama ya.. udah tiga minggu yang lalu. Tapi rasanya baru kemarin.

xxxxx

Kabut: Camping
Aku belum pernah camping beneran sampe camping terakhir kemarin itu. Kalo ga salah, camping pertamaku pas SMP. Bukan camping juga sih, soalnya cuma nginep di sekolah, tidur di kelas. Itu semua sebagai bagian dari Masa Orientasi Siswa (MOS). Setelah itu aku rajin ikut Pramuka. SMP udah diitung masuk Penggalang tanpa tes yang bener (*≧▽≦)ノシ)) Tapi jadi Penggalang, aku lakuin bener-bener. Buktinya aku ikut khatam dari Penggalang Ramu ke Rakit sampe Terap. Lepas pun karena Ujian Akhir Nasional (UAN).

Setiap ujian ato kalo ada acara, Pramuka sering nginep  di sekolah. Kata Pembina sih harusnya kita bener-bener camping. Jadi ada tendanya. Nyalain api unggun juga. Sekolahku sampingan sama lapangan sepak bola. Kan ada tu sekolah yang lapangannya disemen, nah punya kita lapangan rumput. Mendukung banget pasang patok. Tapi Pembina ga rela ngelepas kita camping di sana. Yo wis..

Kemarin itu aku camping beneran, pake tenda beneran, di alam beneran. Aku camping di Sekipan, Tawangmangu. Kesan pertama waktu pas sampe di sana: yeay! Tapi lama-lama..

Aku di sana tiga hari dua malam. Aku udah tahu udara di daerah Tawangmangu itu sejuk cenderung dingin (kalo aku bilang). Pokoknya aku ke sana udah sedia baju hangat, niat aktif juga, gerak badan, biar ga dingin. Faktanya, karena hujan, banyak yang migrasi ke vila, termasuk yang setenda sama aku. Tapi sayangnya aku sama temen-temen dicariin aula, bukan vila, sama ketua kelas.

Malem pertama kita di sana, kita kedinginan. Badanku sampe menggigil. Aku pindah tempat sama temenku. Bermaksud biar dapet alas yang lebih anget, eh, enggak juga. Salah satu temenku ada yang ga tahan, asmanya kambuh di tengah malam. Aku sama Amin (temen cewek ini, namanya Amin) nyari inhaler dia. Ga ketemu. Untung temen ada yang sigap langsung manggil Pembina yang jaga. Temenku yang asmanya kambuh langsung dibawa ke vila ditemeni beberapa orang.

Aku juga akhirnya pindah ke vila pas ada tawaran. Soalnya tulang punggung udah menggigil. Telapak tangan sama kaki dingin banget. Jaket, baju pramuka, kaos olahraga, kaos kaki, sama sarung tangan udah ga mempan. Semua barang percuma disimpen di tas, dingin semua.

Hari kedua kita nyewa vila. Masih dalam tahap pembangunan sih, tapi lumayan daripada kemarin. Terlindung dari lintah pula.

xxxxx

Salju: Gunung Kelud
Nah kalo yang ini lagi anget-angetnya.

[Dari perspektifku] Gunung Kelud meletus. Aku ga tahu waktu itu kalo ada gunung yang meletus. Tiba-tiba habis subuh ada telepon dari temennya mama, minta ngecek di luar ada hujan abu apa enggak (aku inget Tawangmangu karena di sana sempet kabutnya seakan nyentuh tenda kita). Aku cek. Dan pertama aku enggak begitu ngeh sampe mata udah menyesuaikan keadaan luar. Atap rumah-rumah udah pada putih semua. Langsung aku tutupin jendela yang sebelumnya udah dibuka mama.

Subuh-subuh tumben udah hidupin tv. Apalagi kalo bukan buat mantau berita gunung meletus. Siangnya hujan abu makin pekat. Rumah depanku terlihat samar banget. Siang udah kayak mau maghrib. Sempat gerimis, tapi malu-malu gitu gerimisnya. Padahal kalo gerimis kan abu di genteng bisa turun. Genteng kaca sama plastik asbes di atap/atas rumah ketutupan semua. Rumah gelap.

Hari minggu ini lumayan banget. Sinar matahari muncul. Kemarin sempet hujan, gerimis deres, still. Udah ga kelihatan abu di udara.

To be honest, hari jumat itu keliatan kayak hujan salju. Bedanya ini abu vulkanik yang bahaya jika dihirup. Udah tahu gitu ada aja yang masih pergi atau main di luar tanpa masker. Aku yang di dalem rumah aja tersiksa sama udaranya, plus abu vulkanik halus yang lolos saringan udara ke dalam rumah. Ga henti-hentinya bersih-bersih. 。・゚゚・(>д<)・゚゚・。

Aku berharap hal ini dijadikan bahan evaluasi bagi setiap orang. Yang Di Atas sedang menguji kita. Ada status Facebook yang bilang bumi kita makin tua. Kalo udah tahu semakin tua ya jangan buang sampah sembarangan, jangan nginjak-nginjak ato nebang tanaman khususnya yang berguna untuk Paru-paru Dunia, lebih bijak dan hemat dalam memakai produk yang dibuat dari alam seperti misalnya tisu dan kertas. Bisa kan?

ᴥ 30 Random Facts About Me

Aku udah beberapa kali tau tag ini. Tapi biasanya aku liat di YouTube, sampe Carrie dari WishWishWish bikin ginian juga di blognya, aku ikutan deh. ;)


Personal
Aku dulu ga suka kalo orang manggil aku pake nama "Pingkan".

Aku ga lagi morning person (karena suka bangun pagi), tapi night person (karena suka belajar di atas jam 9 malam).

A homebody.

Aku punya OCD: memeriksa sesuatu secara berulang-ulang.

Warna rambutku kemerahan alami.

Model rambut favoritku: potongan rambut blunt atau yang di sini disebut papak.

Aku suka pake kaos yang over-sized.

Beauty inspiration-ku: Emma Watson (karena dia suka pakai produk skincare yang alami dan ini mempengaruhiku untuk pakai produk skincare dan makeup alami, apalagi setahun belakangan aku minum obat terus), Kristen Stewart (karena walaupun jenis kulitnya berminyak, kulitnya bisa mulus bersih tanpa jerawat), sama Meg Lucas (alasan yang sama kayak Emma).

Kompetitor terberatku adalah diriku sendiri.


Favourite
Aku suka crossword puzzle (aka Teka-teki Silang).

Aku suka JKT48.

Aku lagi suka baca artikel online-nya Molly Young.

Nomor favoritku adalah 13 (later known, 13 bisa mewakili Pilot Gundam yang aku suka, satu untuk Heero Yuy sama tiga untuk Trowa Barton).

Ternyata cursive handwriting itu seksi. :)

Aku suka sinar matahari, aku suka musim panas.

Fun Facts
Birthday party pertamaku (dan kemungkinan terakhir) kacau, I messed it up.

Daripada kucing, aku pengen melihara kelinci. Aku pengen punya peliharaan sejak aku masih kecil. Tapi kalo inget biaya yang harus dikeluarkan, sekarang ini aku belom bisa. :(

Aku pernah dalam masa "terlalu terobsesi sama lipstik".

Aku ga pake anting-anting karena menurutku setiap ganti baju anting-antingnya kadang keliatan cocok kadang juga ga.

I do not carry around any pictures on my wallet.

Aku belajar bahasa Inggris dari berbagai sumber: sekolah, film, musik, smsan sama temen pake bahasa Inggris, dll. Tapi kalo ditanya teori bahasa Inggris, aku sering ga paham.

Saat ini, aku pengen punya karir (tapi sebagai part-time job) sebagai editor atau writer.

Aku punya kebiasaan waktu tidur, yaitu pegang pucuk/ujung bantal.

Aku bisa winking mata kanan sama kiri dan ngelipet lidah.

Menurut mamaku, aku punya banyak buku, termasuk buku pelajaran, catatan, bacaan, dsb. Menurutku, aku punya sedikit buku.

Mother doesn't understand about electronics, which makes me looked so expert (and it's annoying).

I want listening more The Young Veins' music (kabarnya band ini bubar). :(

Dua peristiwa besar dalam hidup yang aku ga suka: pernikahan sama kematian.

Kata "giggle" bikin aku inget sama anak ketawanya anak kecil yang masih lugu dan polos.

Rumah impianku: rumah model jaman dulu model bangsawan Belanda.

Image via Fuck yeah, Gundam Wing!

ᴥ Editor.


Sebel ga sih kalo tugas karya ilmiah dipinjem temen, terus si temen tiba-tiba bilang kalo kita salah tulis. “Harusnya bukan ditulis pake angka, tapi huruf. Dua kata ini harus dipisah, yang ini disambung, bla bla bla”, sambil nunjukin bagian tulisan yang salah.

Aku bukan orang yang gampang bisa dimasukin kategori teliti. Ada kalanya aku teledor. Tahu-tahu handphone udah di lantai karena kena tangan atau jins.. karena habis pulang dan capek, langsung jinsnya dilempar sembarangan. Besoknya mau dipake, susah yang nyari karena ga tau kemarin melayang ke mana.

xxxxx

Entah gimana, urusan tata tulis dalam bahasa Indonesia (Ejaan Yang Disempurnakan – EYD) adalah bagian yang kalo dibanding temen-temen, aku paling strict daripada mereka. Kalo udah tau yang bener, waktu nulis ya diterapkan ilmunya. Hasilnya aku lebih berani berdebat kalo materi gini lagi dibahas di sekolah. 

Sejak kecil dapet pelajaran bahasa Indonesia, aku inget banget waktu kelas enam dapet materi tentang kalimat langsung dan tak langsung. Ternyata tanda petik untuk menutup kalimat langsung ga boleh sembarangan ditaruh atau ketuker sama tanda baca yang di deketnya. Titik pun begitu. Kalo salah taruh bisa mengubah arti. Makanya setiap dapet materi (EYD), aku terapkan kalo lagi nulis catatan biar waktu ujian mikirnya lebih gampang. Aku bisa karena biasa.

Tapi ternyata lama-lama makin akrab pula hubunganku sama EYD. Kalo aku liat catatan temen yang tulisannya salah, aku sering kasih tau dia EYD yang bener. Malah pernah aku iseng sengaja pinjem catatan temen cuma buat cari-cari kesalahan-kesalahan tulisan. Sok banget ya? Kalo sekarang dipikir, dulu temen-temen nilai aku gimana ya? Di belakang aku dikata-katain sok apa ga ya? Hihihi!

Pernah ada temen yang kayaknya merasa keganggu sama keisenganku ngecekin EYD dan dia nyindir. Kata dia ga usah khawatir nyelesain soal ujian EYD karena dia bisa tanya aku. Aku diem aja. Biar aja, yang dapet ilmu kan aku, toh aku juga seneng (temen-temen sih ga tau).

Nah, kelakuan gitu kalo bikin karya tulis baru kerasa manfaatnya. Penulisan karya tulis itu aturannya udah baku. Ga ikut aturan ya salah. Paling seru itu nulis tugas akhir ga boleh sama sekali salah. Aku pikir orang yang dapet pembimbing yang EYD-nya diteliti itu bagus karena tugas akhir dia bakal minimal salahnya. Tapi aku coba berpikir positif, pada dasarnya semua pembimbing itu dipilih karena memang punya ilmu, lebih pinter daripada kita.

xxxxx

Berhubungan sama EYD, belakangan ini aku kepikiran buat mempelajari EYD secara serius. Iseng tapi serius. Kata dosen, bahkan dengan tambahan embel-embel “sesuai EYD”, rentalan pengetikan punya nilai plus untuk rentalan itu. Kita juga bisa jadi editor dengan bekal EYD yang bagus.

Aku sempet bingung sama editor ini. Editor yang ada di pikiranku yag macem Miranda Presley dari The Devil Wears Prada. Dia sama sekali ga ngedit tulisan (EYD). Browsing bentar, eh, ternyata jenis editor itu banyak macemnya, menurut ensiklopedia sejuta user internet, Wikipedia.

Aku pengen nyobain jadi editor. Nge-bos-in orang. Kayaknya oke juga punya part-time job (karir) yang disukai berdampingan sama full-time job (real job) yang dibutuhkan. Menurutku memang harusnya begitu. Kita melakukan apa yang dibutuhkan tanpa mengabaikan apa yang disukai. Bukan dominan salah satunya atau pilih salah satu aja. Kita perlu pengalih perhatiaan dari job atau karir kita yang bikin stres. Syukur-syukur kalo bisa menghasilkan uang.

Tapi sebelum bener-bener punya part-time job yang diinginkan, aku masih mau belajar EYD yang bener dulu. Belajar kapan dan di mana pakai titik, koma, angka, huruf, dsb yang tepat. Biar buku EYD yang udah dibeli khusus makul Bahasa Indonesia ga terbeli percuma. 


NB.
Aku baru sadar ada beda antara job sama karir itu jauh. Selama ini aku pikir sedikit aja. Baca penjelasannya via pelangi. kata.

Image via studyinjogja.com.

ᴥ Offline draft.


Pernah ga waktu nulis untuk kepentingan apapun, kita udah duduk manis di depan laptop (Ms Word), tapi dokumen kerjaan kita ga ada progres? Aku sering gitu.

Aku tuh kalo ngeblog, udah dapet topik yang mau ditulis, udah tahu garis besar yang mau dibahas, tapi suka lemot mau nulis mulai dari mana. Padahal laptop udah nyala, cooling pad udah jalan, baterai laptop udah nancep di colokan listrik, tapi baru satu paragraf aja yang udah beres.. dengan durasi pembuatan sekitar dua jam. Listrik jadi terbuang percuma. Kalo ga di depan laptop, aku mungkin udah selesai ngerjain beberapa house chores. Boros listrik, energi, sama waktu.

Karena buang-buang listrik, energi, sama waktu, aku mulai bikin draft dulu tapi di buku catatan.

Buku catatan yang aku pake ini udah beberapa tahun lalu aku beli. Jaman SMP, aku nulis buku harian hampir tiap hari. Sampul semua buku harianku jenisnya hard cover. Lebih mahal dari buku catatan biasa, tapi hampir semua buku harian yang aku liat di toko buku memang hard cover. Jilidnya aja yang beda. Aku sendiri pilih buku harian karena gambar sampulnya. Jadi kadang dapet yang jilid buku, kadang juga jilid spiral, yang penting gambar sampulnya aku suka. Waktu buku harianku habis, harusnya aku pake buku catatan yang aku pake sekarang buat nulis catatan harian. Tapi karena –kalo ga salah– waktu itu udah SMA, aku ga nulis buku harian lagi. Jadilah si notebook aku simpan di rak container.

Tiap kali buka container, aku selalu mikir kira-kira buku catatan kosong ini kapan diisinya. Sampai akhirnya aku butuh buku untuk keperluan yang udah aku jelasin di atas, buku tadi yang nganggur ini jadi rongsokan yang berharga.

Sekarang kalo tiba-tiba aku kepikiran topik buat ngeblog, bisa langsung ditulis. Aku jadi hemat listrik, energi, dan waktu. Walau sebenernya kalau dipikir-pikir aku kerja dua kali buat nulis di catatan sama Blogger, aku terima aja. Karena entah bagaimana apa yang mau aku blog jadi lebih terorganisir, lebih rapi. Apa yang mau di-blog, ditulis dulu di buku catatan, terus diketik (aku kalo ngetik termasuk yang cepet), terus di-salin-tempel ke blog. Paling akhir, aku edit postingannya sama lengkapi kekurangannya.

Aku lebih suka ngeblog dengan bikin draft offline kayak gini. Kalo kamu gimana?

ᴥ Halo Resolusi 2014!


minum 8 gelas air putih atau lebih setiap hari

minum madu atau sari kurma setiap hari

makan makanan yang baik dan bergizi

menghindari internet atau gadget apa pun bentuk atau medianya

lebih taat sama Allah SWT

belajar mengemas peralatan sekolah (universitas) supaya lebih ringkas

belajar berpendapat dan berbicara

belajar menulis biar seperti Molly Young

belajar (untuk bidang akademik di universitas) lebih rajin biar seperti Cinta Laura Kiehl

mencari informasi tentang kelinci (suatu hati aku pengen memelihara kelinci)

berhenti sementara suka beli skincare sama makeup

bertanggung jawab menghabiskan produk skincare sama makeup yang udah dibeli

tetap setia dengan produk skincare sama makeup yang sudah cocok (kasihan kulitnya)

berusaha punya kulit bersih, glowing, dan flawless kayak perempuan Jepang atau Emma Watson atau Kristen Stewart (tahun ini fokus ke skincare lagi :D)

bisa mengatur waktu dan uang dengan semestinya

lebih sabar, bijak, dan bisa bersikap dengan baik dan sepantasnya

memanfaatkan waktu muda dengan berhati-hati (bersenang-senang itu boleh, tapi harus berusaha untuk tidak mengganggu pekerjaan yang lain)

Image via A Dreamer.

♣ Kaleidoskop 2013 (Laporan Resolusi 2013).


Hai! Tahun 2013 segera berakhir. Sedih rasanya kalau inget banyak resolusi tahun ini yang gagal, baik gagal dari awal ato di tengah jalan. Sedih (juga) rasanya kalo liat tanggal kapan terakhir kali ngeblog lewat sini. Postingan terakhir bulan Mei, ya.

Sebenernya ga berhenti selama itu sih. Aku ngeblog lewat blog satunya. Karena aku dikasih ujian sama Yang Maha Esa, aku fokus sama suatu hal di tahun ini. Dan si "hal" yang dimaksud, aku bikinin satu blog khusus buat itu.

Tapi selain yang di atas, sebenernya banyak hal yang bisa diblog. Masalahnya, rutinitas baruku jadi bikin aku susah untuk ngeblog. Pasrah deh. Ini laporan resolusi tahun 2013-ku. Banyak banget yang terbengkalai.

Di tahun 2014, aku pengen lebih santai menjalani hidup (ahem!) - lebih banyak bersyukur dan bijak. ;)

1. drink 8 glasses of water every day for natural body detoxification: kayaknya akhir-akhir aku minum ada lebih dari 8 gelas deh. ini bakal jadi resolusi setiap tahun!

2. exercise more often like when I was freshman (I was diligent enough at that time and now I try to exercise since I've gained 6 or 7 kg during last year and worse these three months): big fail.

3. not carried away to think too hard when I have problem: gagal juga. akhir-akhir ini "kumat" lagi, terutama kalau sedang punya tugas kuliah.

4. routinely consume some tablespoons of honey every day: cuma berhasil beberapa hari (selain itu, madu mahal).

5. watch not only more anime but also pay more attention to the staffs behind the work: gagal. tapi karena buat kesehatan, jadi ya ga apa2. :)

6. blog more: gagal total. tapi no probs. hihihi!

7. empty some skincare products before buying the new one: lumayan berhasil. terbantu sama yang ternyata udah kadaluwarsa (kalo yang ini, aku ga bangga).

8. stop buying lipstick for a while (I have 4 lipsticks that I use alternately): berhasil! berhasil! berhasil! hore!

9. tweet with quality not only babbling this and that: kayaknya sih berhasil. tapi kan yang menilai itu orang yang baca. ;)

10. use computer more often than laptop: gatot juga.

11. change hair color (because my hair start to look like ugly ombre): ga jadi. tiba-tiba merasa takut sama bahan-bahan kimia yang merusak rambut untuk bisa stay di situ.

12. do body scrubbing more often: lha? ini resolusiku? :D

13. lengthen my fringe  until it reaches the longest hair and lengthen hair until it touches my shoulder and keep it like that (which means I'm going back to trim hair every 3 months): ga tau. yang pasti sekarang aku baru nyadar model bob sama papak itu beda dan ternyata selama ini aku salah mengira kalo papak itu bob, which means "pantes aja hasilnya selalu ga sesuai sama yang aku bayangin". PS. Aku suka papak.

14. keep my room neat all the time: [looking around my room] nope.

15. have healthy skin (or healthy looking skin?) like Japanese women: still working on it. I bet it takes years.

16. to be nice, to be grateful, and if I don't have anything nice to say, I won't say anything at all: lumayan berhasil, tapi ga buat beberapa hari ini.

17. finding soon-to-be-husband more serious: no comment-lah.

Image via Marchelle.

♣ Weekend Terakhir di 2013.


2 hari lagi tahun 2013 bakal pensiun. Dari pengalaman tahun lalu dan tahun lalunya lagi dan tahun lalunya lagi dan seterusnya, biasanya aku bingung mau ngehabisin sisa-sisa hari dengan cara apa. Beberapa hari lalu udah pikir-pikir mau liat film yang lagi diputer di bioskop, liat film yang sengaja “ditumpuk” di laptop, sama baca novel R. L. Stine yang dipinjem sejak.. minggu lalu kayaknya. Tapi rencana tinggal rencana.

Uang di dompet tinggal Rp 50.000,00 saja. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sama 99 Cahaya di Langit Eropa di bioskop harus rela ditinggalkan. Resikonya, harus tahan sama spoiler temen-temen yang pada liat ato review filmnya. Sejak kira-kira 2-3 bulan yang lalu, TKVDW emang udah masuk daftar tonton film 2013. Pevita Pearce kasih spoiler terus-terusan lewat Instagram dia. Plus emang akunya suka film yang karakter-karakternya pake baju vintage, pengen-lah aku liat. Plus (lagi), itu film yang dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama oleh Hamka, ada bau-bau sejarahnya (intinya adalah film setting jaman doeloe, baju jaman doeloe, makeup jaman doeloe. Ngerti?)

Alternatif lain adalah marathon film sama baca novel. Banyak film-film tahun lalu yang bisa ditonton, baik baru ditonton maupun ditonton ulang. Udah dipikir yang kira-kira menarik menurut selera. Pokoknya tinggal ditonton aja. Tapi apa daya, so many movies to watch and books to read, so little time. Rata-rata waktu akhir-akhir ini habis buat ngerjain tugas-tugas kuliah. Aku harus pinter-pinter ngatur waktu nyelesaiin tugas, yang prioritasnya tinggi didahuluin.  Konsekuensinya, waktu untuk refreshing yang udah direncanakan harus dikesampingkan. Refreshing-nya ya jadi istirahat itu.

Waktu jadi berharga banget. 1) Kalo dapet waktu untuk tidur siang, ya dimanfaatin. 2) Pas sarapan – makan siang – makan malam, kalo bisa ga usah cek socmed. Bagi aku, makan jadi ga nikmat. Aku tanpa sadar menghabiskan waktu lebih banyak daripada yang seharusnya. Waktu untuk melakukan rencana selanjutnya jadi molor. 3) Malemnya pun kalo bisa tidur lebih awal itu bersyukur banget. 4) Kalo ada kesempatan buat pergi, entah cuma ke pasar nemenin mama, juga dimanfaatin. #fakirwaktu

Nah, kalo ngehubungin sama weekend khususnya yang paling akhir ini, beda. Tugas-tugas udah tinggal 97% aja. Mau liat film, mau hangout, mau jadi kutu buku, ayo aja. Kemarin temen ngajakin keluar, tapi apa daya dia yang justru yang ga punya waktu. Tapi aku ga khawatir. R. L. Stine manggil-manggil. Film-film minta digodain. Ayok! Siapa takut! Hihi!

Selain itu, aku pikir kalian semua harus tau. Hari minggu ini cerah banget. Udah 3 hari cuacanya begini terus. Matahari bersinar cerah, udaranya jadi hangat, mood juga jadi bagus. Mau kegiatan apa aja, aku yakin bakal dinikmati nantinya. Siapa sih yang mau sering-sering complain kalo cuaca aja secerah ini? Bangun pagi dengan senyuman: cek! Bersih-bersih rumah: cek! Menutrisi otak dengan berita pagi: cek! Sarapan: cek! Membuang produk skincare+makeup yang udah habis atau kadaluwarsa: cek! Cuci powder puff, blusher brush, face sponge (?): cek! Ayo apa lagi? Bantai!

Image via Riley.

♣ Tag: Rapid fire question.


Baru sekali ini aku di-tag beginian. :) Mau gimana lagi, waktu itu aku  bikin blog karena emang butuh ngeblog, tanpa cari koneksi temen yang lebih luas. Pokoknya ngeblog. Tulisan di-publish. Aku seneng. Sampe sekarang pun masih begitu. (Agak) bohong sih kalo sedih liat pageviews segitu-gitu aja sebenernya. Tapi aku kalo uda ngebuka blog, liat blog sendiri, jadi seneng. Hiburanku murah emang. :D

Anyway, ini tag dari Mide, semua pertanyaannya tentang membaca (ato buku, terserah).

Pertanyaan wajib (no further adds).
1. Nambah atau ngurangi timbunan buku?
   - Nambah.

2. Pinjam atau beli buku?
   - Kalo bisa sih beli. Nanti bukunya dirawat, temen yang mau pinjem terus dapet barangnya biasanya bilang, "Ya ampun! Bukunya masih bagus". Terus aku aku bilang, "Jangan kena air, jangan sampe kelipet, jangan  kena minyak, jangan difotokopi, (yang jilidannya masih rapi dan bagus) jangan dibuka terlalu lebar biar ga rusak, dll" Terus mereka *facepalm :D

3. Baca buku atau nonton film?
   - Normally nonton film. Frase "nonton film" itu mejik. Bisa repot kalo tau ada film yang diangkat dari sebuah buku (novel) dan berkeras selalu baca buku dulu biar bisa bandingin ini itu. Tapi pengecualian untuk Harry Potter, aku baca buku (yang ke-4-7) dulu sebelum nonton filmnya.

4. Beli buku di toko buku online atau offline (yang tokonya bisa kamu datangi)?
   - Offline. Ga afdol kalo ga liat bookstore, liat tumpukan buku, pilih-pilih, buka-buka sedikit, baca-baca summary-nya, sama nyiumin aroma kertas.

5. Buku bajakan atau original? (penting)
   - Original. Pride of having and taking care of it are unchangeable.

6. Gratisan atau diskonan?
   - Book quality is important. Mau gratisan atau diskonan yang penting kualitas barangnya dulu.

7. Pre-order atau menanti dengan sabar?
   - Menanti dengan sabar. Pre-order itu spiritnya easy come easy go. Kita uda dapet barangnya, uda dapet hype-nya, yang diajak cerita belum dapet dan ga bisa diajak diskusi karena anti-spoiler.

8. Terjemahan atau lokal?
   - I have to admit that I enjoy novel terjemahan more than novel lokal.

9. Pembatas buku: penting atau biasa saja?
   - Biasa aja. Ingatanku akan halaman ga begitu bagus sih tapi aku suka recall kejadian uda baca sampe mana (orang yang anti-spoiler anti banget begini kayaknya, soalnya nanti bisa icip-icip spoileran).

10. Bookmark atau bungkus Chiki?
   - (Banyak yang ngira ini pertanyaan macem apa, tapi ini artinya pilih punya bookmark asli atau bungkus cemilan sebagai bookmark ya kaaan? :)) Bookmark!


Pertanyaan tambahan dari Mide.
1. Fantasy atau historical? 
   - Fantasy

2. Romance sebagai bumbu cerita atau cerita utama?
   - Romance sebagai bumbu cerita. Um, Heero and Relena's relationship, anyone? :D

3. Cerita tentang polisi atau tentara?
   - FBI, CIA, SWAT itu masuk apa? Kalo Preventer 5 masuk apa? :)

4. Mainstream atau non-mainstream? Kenapa?
   - Non-mainstream. It's been my nature to choose some things different than the most of people.

5. Pilih punya pasangan yang satu hobi atau tidak satu hobi (tapi pengertian dengan hobimu)?
   - Enggak sehobi. Sempitnya dunia kalo orang yang kita temui sehari-hari hobinya sama kayak kita.


Pertanyaan tambahan dari aku.
1. First person atau third person point of view?
2. Beli atau punya hardcover atau softcover book?
3. Yellow-ish vintage atau flawless white paper book?
4. Menyimpan (menata) buku dengan ditumpuk atau dijajar?
5. A DIY dried flowers (or leaves) atau bookmark yang bisa dibeli di toko buku?

Yang aku tag: semua yang baca postingan ini. Jangan lupa kasih link balik di komen, biar aku baca. :)) Terima kasih. :))

Image via Anikabbgxo.

♣ Anime spring 2013 - final watch.




Anime musim semi uda lama diputer di tv. Beberapa judul uda mulai masuk ke bagian serunya. Yang pada bikin daftar anime musim semi yang mau ditonton, uda komentar ini itu. Ada yang suka, kecewa, bilang mau lanjut liat, ada yg berhenti.

Kalo aku? Aku masih liat tiga anime.
1. Suisei no Gargantia
Diiming-imingi nama Gen Urobutchi, aku langsung positif mau liat ini. Waktu pas liat, aku takut. Entah gimana, aku dapet kesan aku ga bakal suka. Soalnya sebelumnya aku liat posternya dulu langsung komentar, "Pipinya chubby". :P Tapi ternyata enggak (chubby, khayalan aja kayaknya). Setelah liat, aku suka. Walau aku rada kecewa karena aku agak expect anime ini nguras emosi macem Psycho-Pass.

Kenapa masih nonton? Karakternya, Led, mirip Heero Yuy. Tentara, militer, perilakunya stoic, ada kesan anti-sosial (dikit, kalo Heero kan parah). Juga karena aku nunggu kejutan plot dari Urobutchi.

So far rating: 3.5/5

2. Red Data Girl
Anime ini yang paling biasa dari keseluruhan anime musim semi yang aku liat. Temanya paling umum. School life, future slight romance (?), supernatural, sama damsel in distress.

Aku suka liat anime school life. Menurutku genre ini paling gampang diterima ceritanya. Ga begitu suka sama yang pake supernatural sih, tapi kalo olahannya oke ya ditonton juga. Damsel in distress.. ga suka juga. Apalagi kalo si cewek kesannya lemah banget. Sukanya tuh macem Sakura Haruno dari Naruto Shippuden. :D

Kenapa masih nonton? Ada karakter yang penampilannya 11-12 sama Heero Yuy (lagi). Makin lama makin cakep rasanya kalo diliat. :P Tapi sayang, namanya sering lupa sesering aku coba inget nama dia.

So far rating: 2.5/5

3. Aku no Hana
Selama liat anime ini, perasaan sama pikiranku jadi ga tentu. Banyak komentar (kesan) yang muncul. (1) Aku ga suka desain karakternya. Aku belum pernah liat desain karakter kayak di anime ini. Aku ga tau desain karakter seperti ini pernah dipake di anime lain ato belum. Buat mataku, ini aneh. (2) Nakamura ngeri. Aku bersyukur ga ketemu orang macem dia waktu masih sekolah. (3) Lagu endingnya juga ngeri, well, kalo itu bisa disebut lagu sih. Unik sebenernya. Jadi inget lagu I Just Wanna Say I Love You punya Melly Goeslaw. Tapi kalo punya Melly Goeslaw kesannya lebih lucu, imut, orang yang denger bisa seneng; kalo endingnya Aku no Hana ini kesannya meneror.

Kenapa masih nonton? Sederhana. Karena aku ga baca manganya, aku nonton ini jadi full of surprise. Aku penasaran endingnya.

So far rating: 4/5

Anyway..
anime spring 2013 belum selesai, tapi aku uda pengen liat anime summer 2013. Aku bisa prediksi, paling enggak, ada satu anime school life yang aku pilih. :D

Kalo kamu masih nonton anime musim semi 2013 yang mana?

Image via AnimexMusicCrunchyrollDao's subarashii blog.